
- Masjid sebagai pusat peradaban
Oleh : Muhammad Diya Bin Shahab, Lc.
Alumni Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah
Alumni Universitas Al Ahqaf Yaman
Pengasuh Majelis .....
Instagram:@diyashahab
YouTube:Habib Diya Bin Shahab
Kita sering melihat bangunan-bangunan megah peninggalan dari kaum dan bangsa tertentu yang menceritakan kepada generasi yang akan datang tentang betapa pencapaian peradaban dari bangsa tersebut. Namun betapapun megah dan indahnya bangunan, tumpukan dan ukiran batu bukanlah penyebab terjadinya sebuah peradaban, namun merupakan hasil dari sebuah peradaban.
Peradaban yang sesungguhnya adalah ide, moral, dan manhaj yang mengatur kebaikan untuk seluruh manusia, bukan hanya bangunan dan susunan batu.
Betapapun megahnya sebuah istana dan negara, jika ia sepi dari nilai-nilai moral dan keadilan, maka tak pantas disebut sebagai peradaban.
Betapapun megahnya bangunan-bangunan kasino di Las Vegas, namun ditujukan untuk memeras keringat dan harta orang-orang, maka ia tak layak disebut peradaban.
Dalam Islam, setelah keimanan, peradaban yang sejati dibangun dengan beberapa unsur. Dan unsur terpentingnya adalah masyarakat, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai positif kemanusiaan.
Penamaan Masjid diambil dari kata سجد (sujud). Dan penamaan Musolla diambil dari kata صلى (solat). Lalu dua kata ini berubah ke bentuk Isimulmakan sehingga artinya bergeser menjadi tempat sujud dan tempat solat.
Dari penamaanya saja, dapat kita fahami bahwa solat merupakan bentuk terpenting dari fungsi masjid. Dan solat yang benar dapat menciptakan karakter baru yang lebih baik dan lebih positif dalam diri manusia. karna Allah SWT Sang Pencipta segalanya berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Ankabut 45 :
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"sesungguhnya solat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”
Dengan begitu dapat kita katakan bahwa dua unsur terpenting dalam pembentukan sebuah peradaban sudah terpenuhi dengan solat berjamaah yang benar tersebut. Pertama sudah ada manusia yang beriman bersatu dalam jamaah. Kedua mereka terjaga dari perbuatan keji dan munkar karna solat yang mereka kerjakan.
Masih ada unsur yang belum terpenuhi. Oleh karenanya kita dapat memahami bahwa solat berjamaah bukan satu satunya fungsi dibangunnya masjid.
Menarik, ketika Nabi Muhammad SAW ingin membangun sebuah peradaban di kota Madinah Al Munawwarah sebagai sebuah tempat yang memiliki masyarakat beriman, hal pertama yang Beliau SAW lakukan di kota Madinah adalah mendirikan sebuah Masjid. Dan hari ini kita kenal dengan Masjid Nabawi.
Maka dapat kita katakan bahwa, dalam sejarah Umat Islam, yayasan pertama yang di bangun oleh Nabi Muhammad SAW adalah masjid.
Nabi Muhammad SAW membangun masjid agar semua perkara umat kembali kepada masjid.
Nabi telah membangun masjid dengan pondasi ketakwaan untuk menjadi tempat solat, untuk menjadi tempat berkumpul para sahabat, untuk menjadi tempat belajar dan mengajar umat, untuk menjadi ruang diskusi, untuk menjadi ruang menemui para delegasi, bahkan untuk menjadi mahkamah tempat Nabi memutuskan suatu hukum.
Setelah zaman Mabi Muhammad SAW, sejarah mencatat bahwa hampir seluruh peradaban umat islam selalu berkaitan dengan masjid-masjid besar. Cordoba Spanyol dengan Masjid Córdobanya, Damaskus Suria dengan Masjid Umawinya, Kairo Mesir dengan Jami' AlAzharnya yang awalnya merupakan salah satu masjid terpenting dalam penyebaran ilmu pengetahuan ke seantero dunia melalui ulama-ulama terkemuka yang dikeluarkannya. Dan Maroko dengan Masjid AlQorowieyinnya. Dan banyak lagi di tempat tempat lainya.
Dalam kesempatan ini, saya akan menguraikan satu saja dari puluhan fungsi masjid yang sudah mulai dilupakan sebagian umat islam Indonesia. yaitu masjid sebagai tempat mengkaji ilmu pengetahuan baik umum ataupun agama.
Biarlah kita berkaca pada diri kita sendiri umat islam pada beberapa abad yang lalu. Di masjid Jami' AlAzhar (bahkan sampai saat ini) ada penggajian ilmu agama dengan standart yang sangat tinggi. Sampai boleh kita katakan bahwa AlAzhar dianggap sebagai poros pemikiran islam. Dan masjid ini dilengkapi dengan perpustakaan yang begitu besar sebagai santap wawasan para pelajar.
Dalam bidang keagamaan, AlAzhar telah mencetak ulama-ulama besar dengan jumlah yang tak terhitung. Sebagai contoh sebutlah Al Imam Zakariya Alansori dan Al Imam Annawawi.
Menarik, bahwa dalam keilmuan umum pun AlAzhar telah mencetak para ahli. Sebagai contoh, mari kita sebut satu nama yang telah memiliki andil besar dalam dunia teknologi dan medis yaitu Hassan ibnu Alhaitsam. Seorang yang dilahirkan di Bagdad Ialu pindah ke Kairo untuk belajar di Alazhar. Pada akhirnya beliau dikenal sebagai penemu ide awal dari Kamera dan juga cara menyembuhkan penyakit Katarak.
Contoh nyata kedua bahwa peradaban umat islam bermula dari masjidnya adalah sebuah masjid bersejarah di kota Fass Marokko yang bernama Masjid AlQrowiyyin.
Masjid ini dibagun oleh seorang wanita kaya dan terpelajar bernama Fatimah Alfihriyah Alqurasiyah pada tahun 859 M. Pada zamannya, Masjid ini telah menjadi pusat ilmu pengetahuan, Agama, Diskusi Politik, juga Ilmu Alam. Salah satu nama legendaris yang pernah belajar dalam masjid ini yaitu Ibnu Rusyud (Averroes) yang dijuluki si jenius kelahiran Andalusia yang menguasai banyak cabang keilmuan seperti ilmu Alquran, Fisika, Matematika, Filsafat dan Astronomi.
Sahabat yang dirahmati Allah, pemaparan tersebut telah memberikan sebuah gambaran kepada kita bahwa islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, baik agama ataupun umum. Dan pada zaman dahulu, kedua hal tersebut dapat kita peroleh didalam masjid, sebagau tempat pembentukan karakter, hati dan pemikiran dengan keimanan dan wawasan bagi anak-anak kaum muslimin. sehingga masjid selalu menjadi titik awal tumbuhnya sebuah peradaban.
Sebagai penutup, ingin saya sampaikan bahwa hal diatas masih dapat kita saksikan dalam bentuk paling sederhana dikota Tarim, Hadramaut, Yaman selatan. Tempat dimana saya menimba ilmu. Ditarim, jika sudah memasuki musim Ujian Nasional maka akan kita Iihat anak-anak sekolah memenuhi masjid diwaktu belajarnya. Mereka belajar dan mengkaji pelajaran umum sekolah mereka di masjid. Unik ketika mereka Iebih memilih belajar dimasjid dibanding tempat lain. Mungkin karena masjid lebih menyajikan keheningan dan ketenangan sehingga membantu fokus dalam belajar.
Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita sebagai umat islam Iebih meningkatkan keperdulian kepada kemakmuran masjid disekitar kita. terutama para pemuda, karena merekalah gambaran peradaban bangsa ini dimasa depan
Jika para pemuda disaat ini adalah orang-orang yang hatinya terpaut dengan masjid, maka Insya Allah bangsa ini dimasa depan adalah bangsa yang baik.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa
" ada 7 golongan yang akan mendapatkan naunggan Allah SWT pada hari kiamat, di hari tidak ada naungan selain naungan Allah dan salah satunya adalah para pemuda yang hatinya cinta kepada masjid"
Marilah kita makmurkan masjid-masjid disekitar kita, baik itu masjid yang besar maupun yang kecil. Karena yang menjadi tolak ukur kesuksesan bukan tentang lapisan dinding, besarnya kubah, mewahnya lampu atau luasnya tanah. Tapii lebih kepada program apa yang dijalankan didalamnya.
Walaupun hanya surau sederhana, namun didalamya ada kegiatan yang luarbiasa dan disambut dengan antusias oleh masyarakat sekitar. Maka itu adalah sebuah cikal bakal sebuah peradaban.
Karena peradaban tidak hanya lahir dari suatu yang megah tapi juga tumbuh dari hal kecil yang dikerjakan dengan istiqomah.
Semoga kita semua dapat kembali menghidupkan fungsi masjid yang hilang dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk bangsa dan agama.
Komentar
Posting Komentar