Sepenggal kisah dari sudut kota Tarim
Oleh : Habib Diya Bin Shahab,Lc.
Siang ini kupaksakan langkah kaki malasku untuk berziarah ke komplek pemakaman Zambal. Sebuah pemakaman legendaris di kota Tarim - Yaman Selatan, tempatku kuliah menimba ilmu.
Pemakaman ini telah diisyaratkan oleh banyak ulama sebagai peristirahatan terakhir para wali Allah dan orang-orang soleh.
ku sela motor tuaku berkali kali sampai -akhirnya- ia mau menyala. Mulailah kujalankan besi tua ini menuju jantung kota tarim. Sesampainya di zanbal aku melangkah masuk. Kusalami si juru kunci pemakaman dan langsung menuju ke makam utama.
Ya… Pusara Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam. Dari sinilah kami selalu memulai ziarah kami.
Aku bersimpuh dan mulai membaca Alquran. Selesai bacaanku akupun duduk merenung dan terdiam. Kemudian datang seorang bapak-bapak tua dan duduk disampingku. Ia menyalmiku dan menayakan nama serta asalku.
Ah... Ternyata ia orang Tarim. Dengan bersahabat ia mulai bercerita bahwa ia memiliki kerabat di Jakarta. Bahkan sampai sampai ia menunjukkan foto kerabatnya.
Dan akhirnya ia memintaku membaca tartib Fatihah dan doa untuknya. Aku enggan tapi ia memaksa. Tentu saja bukan karna aku orang baik. Tapi karna ia yang baik dan selalu berprasangka baik.
selesai aku membaca tartib, kami membaca Alfatihah bersama lalu ia pergi.
Aku terdiam sejenak lalu bangkit dan mulai menyelesaikan urutan ziarahku.
Hingga akhirnya, aku sampai ke makam Al-Imam Abdulloh bin Alwi Al-Haddad.
Disini ku lihat seorang kakek tua dengan janggut putih yg panjang dengan stelan imamah (sorban), gamis dan jas hitam. Dari pakaian tersebut aku langsung mengenali asal kakek ini. Pakaian khas Yaman Utara pikirku.
Ia sedang Solat Dhuha di sisi makam. Kulanjutkan ziarahku dengan membaca Fatihah, doa dan beberapa Qosidah karya Imam Al-Haddad.
Selesai solat, kakek ini pindah duduk disampingku. Kami bersalaman dan saling menanyakan nama dan asal kami.
Lalu... ia bercerita tentang kemuliaan Ahlu Bait Nabi Muhammad dengan bahasa Yaman Utara yg kurang kupahami.
Setelah itu ia memintaku membaca tartib Fatihah. Dan kali ini, aku benar-benar menolak. Dan ia benar-benar memaksa.
Yang pada akhirnya ia memberi solusi. Yaitu, setelah aku membaca tartib dan doa ia juga akan melakukan hal yang sama.
Mulailah aku membaca tartib dan doa kemudian ia membaca doa yg sangat panjang. Doa yang menyentuh dan merenyuhkan hatiku.
Kawan…
Ku taksir, usia kakek ini tidak kurang dari 70 tahun. Tapi caranya memperlakukan orang lain telah membuatku mencintai dan amat sangat menghormatinya.
Ia pergi dan aku merenung sendiri.
Sedikit banyak aku sadar, bahwa perlakuan orang lain merupakan timbal balik dari perlakuan kita.
Orang lain tidak akan mengormati kita dengan tulus hanya karna usia, harta atau bahkan kecerdasan. Tapi lebih kepada bagaimana kita menghargai mereka.
Sobatku…
Inilah kota ini
Inilah para penduduknya
Inilah aura rohani
Dan inilah pesona dari moralitas yang tidak dibuat buat.
Tarim. 15 Mart 2017.




Komentar
Posting Komentar