(Foto dari sebelah kiri : Saya, Mama, Alwi, Ali)
Hari jumat. 22 oktober 19 tahun lalu saya kehilangan beliau.
Seorang wanita terhebat yang pernah saya lihat dengan mata kepala.
Sebuah wujud dari kasihsayang, cinta, kesabaran, pengorbanan dan keceriaan.
Buku Ratib fotocopy an yang selalu dipegangnya setiap bada magrib.
Mesin jahit tua dari besi berwarna hitam.
Mukena putih dan sajadah merahnya.
Alat alat masak di dapur.
Ya itulah beberapa hal tentang mama.
22 oktober 2004 adalah tanggal yang sangat berarti bagi saya karna saat itu segala kejadian berhenti dan menjadi kenangan. Semua keadaan menjadi memori.
Semua gambaran hidup berubah menjadi selembar foto kaku dan mati yang dibingkai dengan frame suram dalam hati.
Pulang sekolah.
Melempar sepatu disembarang tempat dan akan menuai omelan.
Tidak melepas baju seragam yang akan menuai teguran.
Nasi panas diatas meja.
Makanan yang baru matang.
Suaranya yang menggerutu karna kecengkalan anak anaknya sambil memerintahkan agar kami membatu membersihkan rumah.
Ah… 22 Oktober 2004
Semua itu terhenti.
Hanya tersisa ruangan kosong dan sepi
Saat itu… mungkin tak ada yang hilang dari rumah kami kecuali dirinya. Namun kami merasa kehilangan segalanya.
Tiba tiba suasana terasa hampa. Rumah kehilangan kehangatannya. Dingin dan suram. Murung dalam diam.
Kesedihan yang sangat mendalam sampai airmatapun tak mampu lagi mewakilinya.
"Alhamdulillah ala kulli hal"
"Segala puji bagi Allah atas segala keadaan"
Begitulah pantasnya orang beriman berkata
Waktu akan menjadi obat terbaik bagi hati yang kehilangan. Merubah luka menjadi pengalaman. Dan sakit menjadi pelajaran.
Cepat atau lambat hampir semua orang akan mengalaminya dan sampai hari ini semua dapat melaluinya.
Betapapun. Semoga bakti tak akan terputus. Semoga untaian doa selalu terucap untuknya. Dan semoga rahmat Allah selalu tercurah atasnya.
Alfatihah…
(Dalam kenangan indah. Ibunda tercinta Syarifah Syifa binti Abdurrahman Al-Jufri)
(Foto : kedua orang tua kami tercinta Sayyid Zainal Abidin Bin Shahab dan Syarifah Syifa Abdurrahman Al-Jufri. Juga kami 4 bersaudara Alwi, Ali, Muhammad Diya, Quraish)


Komentar
Posting Komentar