Syariat itu dzohir dan hakikat itu batin.
Oleh : Sayyid Muhammad Diya Bin Shahab, Lc
Bicaralah sesuatu yang dapat dinilai kebenarannya atau kesalahanya melalui refrensi yang diakui.
Karena jika tak begitu anda tak berhak menyalahkan orang yang tak mempercayai ucapan anda.
Seseorang berbicara bahwa ia melihat sosok hantu berpakaian putih berlumur darah disebuah pojok ruangan. Ketika pendengar meminta bukti (entah bayangan, aroma atau hal hal tak wajar) si paranormal tak mampu membuktikanya. Jangan salahkan para pendengar tak percaya.
Begitupun soal agama islam. Refrensi terbesar adalah Aquran dan Hadits juga pendapat para ulama yang memiliki integritas dalam bidangnya.
Ketika seseorang berbicara soalan hakikat atau makrifat dalam agama namun tak mampu menunjukkan pada refrensi mana hal itu dijelaskan maka ia tak boleh menganggap bodoh orang yang tak mempercayainya.
Disisi lain seorang menggembar gemborkan aliran sufisme sambil duduk berkeliling mendendangkan pujian pujian kepada nabi dan orang soleh. Namun salah satu pemain alat musiknya adalah wanita yang membuka aurat. Bahkan wanita lain menari nari dihadapan para lelaki.
Syariat itu dzohir. Hakikat itu batin.
Kita hanya dapat menjadikan yang dzohir sebagai barometer dan Allah maha berkuasa atas segalanya.
Kawan... Pandai pandailah memilih dalam zaman penuh fitnah ini.

Komentar
Posting Komentar