Langsung ke konten utama

BERUNTUNG YANG PUNYA MALU

 

 

Beruntunglah yang punya MALU

Oleh : Sayyid Diya Bin Shahab, Lc.

 

Kawan… 

Kebanyakan rasa malu itu baik jika dalam porsinya dan diwaktu yang tepat.

 

Yang terbaik adalah jika malu itu kepada Allah SWT atas apa yang dilarang olehNya.

Baik juga jika malu itu kepada diri sendiri atas perkara yang tak pantas baginya.

Boleh juga kepada orang lain atas hal hal yang tak ingin kita terlihat mengerjakannya dan ini adalah tingkat terendah. 


Pada tingkat pertama seseorang akan menghindari hal hal yang tak pantas. Jangankan maksiat, bahkan makruhpun takkan dikerjakannya. Karna ia malu jika dilihat oleh Yang Maha melihat sedang berkubang dalam larangan apalagi maksiat.


Pada tingkat kedua seseorang akan meninggalkan hal hal yang menciderai kehormatan dan harga dirinya. Ia takkan berkata kotor karna mengganggap dirinya terlalu terhormat untuk melontarkan kata kata buruk. Ia takkan mengambil barang milik orang lain karna merasa tak pantas bagi orang terhormat melakukanya. Bahkan ia akan menghindari interaksi dengan pasangan orang lain karna sadar bahwa hal itu menciderai harga dirinya.


Dan pada tingkat terakhir seseorang akan meninggalkan hal hal buruk karna khawatir dilihat orang lain. Ia tak mabuk mabukan atau bermaksiat bukan karna takut kepada Allah bukan juga karna menghormati dirinya namun karena malu jika orang lain melihatnya bermaksiat. Orang semacam ini akan bermaksiat disaat ia merasa sendirian dan tak ada manusia yang melihatnya.


Kawan… 


Yang berbahaya adalah jika seseorang sudah kehilangan rasa malunya bahkan kepada sesama manusia. Karna ia akan tanpa ragu bermaksiat dimuka umum atau membanggakan hal hal buruk yang dikerjakannya.


Hati hatilah jangan sampai kita termasuk bagian ini.


Bukankah rasa malu kepada sesama manusia itu adalah tirai terakhir yang menghalangi diri kita dengan perbuatan buruk? Kalau tirai itu tersingkap maka tak ada lagi penghalang.


Pantas saja jika dalam sebuah riwayat Rosulullah SAW bersabda "jika kau tak malu. (Kau akan) lakukan apapun (maksiat) yang kau inginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Take & Give

  TAKE AND GIVE SI BAJINGAN TENGIK Muhammad Diya Shahab, Lc Kawan... ‎Dunia berjalan dengan hukum dasar "memberi dan menerima" ‎Orang memberi sebuah kebaikan padamu maka dia harus menerima hal baik juga darimu ‎ ‎Bukankah pererbuatan baik orang itu menuntut disyukuri dan di terimakasih ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu membalas dengan kebaikan = kamu bijak ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu berterimakasih = kamu manusia normal ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu tidak berterimakasih = kamu bajingan ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu mengeluhkan pengorbanannya = kamu bajingan tengik yang tak tau bersyukur

Pilihan Kedewasaan

  PILIHAN KEDEWASAAN (Sayyid Diya Shahab, Lc)  ‎Kawan. . .  ‎Dalam hidup kau akan sering kali dihadapkan pada dua pilihan. Setiap pilihan pilihan kecil dalam keseharian hidupmu akan membentuk dirimu dimasa depan. ‎ ‎Dimulai dari pilihan-pilihan kecil seperti: ‎ ‎Jujur / bohong ‎Taat / maksiat ‎Belajar / bermain ‎ ‎Sampai pilihan-pilihan besar seperti: ‎ ‎Bekerja / bermalas-malasan ‎Berteman dengan yang baik / yang buruk ‎Membangun keluarga / pesta pora ‎ ‎Kawan... ‎Pada akhirnya engkau akan menjadi semakin "dewasa" saat memilih pilihan yang tepat

Lahir Tanpa Privilege

 Lahir Tanpa Privilege   (Muhammad Diya Shahab,Lc) Kawan, memang betul bahwa manusia lahir dengan status sosial dan privilege yang berbeda. Ada yang lahir di keluarga konglomerat dan ada yang terlahir di keluarga rakyat jelata.  Namun, diantara keadilan Allah, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk beruntung di akhirat nanti.  Bahkan, Allah memberikan sebuah contoh ekstrim 15 abad lalu dengan lahirnya seorang anak yatim, yang dari saat dalam kandungan telah ditinggal wafat ayahnya dan menjadi piatu di usia 5 tahunya. Nyaris tanpa hak istimewa. Namun, anak ini akan bergelar Al-Amin (si jujur terpercaya) pada masanya. Dan menjadi orang paling berpengaruh di dunia. Bahkan makhluk paling mulia disisi Tuhannya.  Kawan… Jadikan dirimu beruntung di dunia dan akhirat. Kalaupun ternyata duniamu kurang beruntung, jadikanlah akhiratmu bahagia. Sialnya, ada orang yang tak beruntung dunianya juga ia biarkan luput  akhiratnya.