Oleh : Sayyid Diya Bin Shahab, Lc.
Suatu hari saya dihadapkan dengan keadaan yang sangat menjengkelkan. Bagaimana tidak?
Saya sedang dalam percakapan penting (via chat) lalu batrai ponsel saya kritis 1%. Saat ingin mengambil charger ternyata kepalanya tak ada ditempat biasanya, saya terburu buru mencari kepala charger tersebut. Setelah ketemu saya berusaha memasangkanya ke hp dan tiba tiba tangan saya menyenggol segelas kopi. Tumpahlah kopi ke lantai. Ponselpun mati.
Kawan…
Dalam keadaan itu saya berhadapan dengan 3 pilihan cara merespon.
Pertama : Saya akan mengumpat habis habisan dan mengeluhkan keadaan. Saya akan menyalahkan semua orang mulai dari yang memindahkan kepala charger sampai perancang model gelas yg mudah jatuh.
Kedua : saya akan diam seribu bahasa dan menahan emosi sambil membereskan semua kekacauan sampai selesai.
Ketiga : saya akan diam sejenak merenungkan, betapapun repot yang saya rasakan toh itu berarti saya punya ponsel, saya punya segelas kopi, dan saya punya jutaan kenikmatan lain dari Allah yang patut saya syukuri. Lalu saya akan membereskan semua dengan senyuman.
Gambaran semacam itu sering terjadi dalam bentuk yang lain dalam segala sisi kehidupan kita. Terkadang dalam pekerjaan, perkawanan, pernikahan, dijalan dan lain sebagainya.
Sayangnya mungkin kita lebih sering memilih respon pertama dan kedua. Padahal keduanya dibenci Allah dan hanya membuat hati berat dalam menjalani hari. Sedang yang ketiga dicintai Allah dan membuat hati lapang dalam menjalani.
Seorang kawan berkata "jangan terlalu banyak mengeluh. Nanti tuhan tersinggung"
Saya rasa ada benarnya, semisal saja kita manusia memberi 10 kotak nasi kepada pengemis. Alih-alih berterimakasih ia malah mengeluhkan satu kotak yang terlihat agak lusuh. Tentunya kita tersinggung.
Allah memang berbeda dengan makhluk. Namun setidaknya Allah telah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7
(وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ)
“Jika kamu sekalian bersyukur maka akan aku tambah nikmatku dan jika kamu sekalian kufur atau ingkar (atas nikmatku) sesunggunghnya adzabku sangat pedih”.
Semoga kita dapat bejuang menjadi lebih baik.

Komentar
Posting Komentar