Oleh : Sayyid Diya Bin Shahab, Lc.
Untuk menjalani hidup dengan tenang terkadang kita harus membatasi diri dari hal yang tak menyenagkan dan mulai menjauh dari orang yang tak menenangkan
Mungkin kebanyakan manusia pasti pernah melakukan hal-hal memalukan. Yang bahkan sangking memalukanya diri sendiri enggan mengingatnya.
Saya pernah berfikir. Boleh jadi jika hal bodoh, konyol, memalukan yang kita lalukan pada masa lalu diketahui dan diumbar kedepan umum oleh seorang kawan. Saya pribadi lebih baik membatasi hubungan dengan kawan semacam itu.
Kita boleh bersabar dan memaafkan namun disisi lain kita juga boleh membaca karakter orang lain dan mulai memilah dan memberi batas. Itu hak setiap orang untuk tak bergaul dengan yang tak se frekwensi denganya.
Bahkan Imam As-Syafi'i pernah berkata
إِذا المَرءُ لا يَرعاكَ إِلّا تَكَلُّفاً
فَدَعهُ وَلا تُكثِر عَلَيهِ التَأَسُّفا
فَفي الناسِ أَبدالٌ وَفي التَركِ راحَةٌ
وَفي القَلبِ صَبرٌ لِلحَبيبِ وَلَو جَفا
Jika dalam satu pertemanan kau harus merasa terpaksa dan tertekan (tak nyaman)
Maka tinggalkan saja dan jangan terlalu disesali
Masih banyak kawan baik yang membuat nyaman. Dan dengan meninggalkan kau akan tenang
Karna pasti hati akan memmiliki kesabaran untuk jauh dari orang tertentu
Dan terkait mengumbar aib orang lain sadarkah kita bahwa semua memiliki aib dan akan ada satu saat dimana semua makhluk akan menyaksikan rekam kehidupan yang kita lakukan. Setiap detailnya akan dipertontonkan dengan detail. Ya pengadilan akhirat.
Namun ada satu cara bagaimana agar aib kita ditutupi pada hari itu. Diriwayatkan oleh imam Muslim bahwa Rosulullah bersabda
"ومن ستر مسلمًا ستره الله في الدنيا والآخرة"
Barang siapa yang menutupi aib muslim lain maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Kawan… dapat kita fahami bahwa jika kita membuka aib orang lain maka kitapun akan dipermalukan dengan dibuka aib kita didunia dan akhirat.

Komentar
Posting Komentar