Langsung ke konten utama

PEREVIEW ULAMA

 

Oleh : Sayyid Diya Bin Shahab, Lc

Saya teringat pada masa lalu tak terlalu banyak ulama yang dikenal masyarakat. Atau setidaknya tak sebanyak sekarang. 


Pada masa itu, mereka yang terkenal adalah orang orang yang telah diizinkan berbicara di majelis majelis besar. Seperti ICI Kwitang, Al-Hawi Condet dan beberapa majelis tua lainnya. Kalau sudah berbicara disana, maka nama seorang da'i akan terorbitkan dan ia akan tenar. Bisa dikatakan bahwa saat itu, majelis-majelis tersebut adalah media paling cepat untuk mengangkat nama seorang da'i.


Namun tak sembarang orang diizinkan berbicara. Para ulama dan sesepuh sangat selektif dalam mengizinkan siapa yang boleh berceramah disana.


Hasilnya, da'i-da'i yang terorbitkan dan terkenal adalah orang yang kompeten dibidangnya. Orang-orang yang berhati hati dalam ucapan dan perbuatan.

Kalaupun ada perbedaan pendapat dengan ulama lain, akan mereka sikapi dengan bijak. Warga majlis akan beradab kepada para ulama dan masarakat awam merasa tak pantas ikut-ikut mengomentari mereka.


Namun hari ini keadaan berubah. Media sosial terbuka luas untuk semua orang, dan siapapun bebas berbicara dan bebas mengomentari. Apalagi seorang yang merasa memiliki banyak pengikut di media sosialnya. Ia akan merasa pantas mengomentari apapun. 


Akibatnya, hilanglah adab. Isi ceramah para da'i dianggap sebagai barang yang bisa di review oleh siapapun. Mengomentari yang tak sepaham dan mencela serta mencerca. Dan itu semua dilakukan dengan merasa benar. Berdalilkan "kan di upload di medsos jadi boleh dikomentari". 


Kawan. Tak semua pantas untuk kau komentari dan tak semua bisa kau kritisi. Ada etika dan adab tertentu terkait beberapa orang. Yaitu tentang siapa mereka dan siapa kita. 


Apakah jika seorang presiden berbicara yang berbeda dengan pandangan kita, lantas bebas kita komentari dengan cacian? Tentu tidak. kita akan berhati hati dalam berkata. 


Jika ada seorang dokter berbicara suatu teori pengobatan. Maka yang pantas mengomentari dan mengkritisi adalah para dokter juga.


Jika seorang koki berbicara tentang suatu resep dan bumbu maka berhak berkomentar adalah koki juga. 


Apalagi terkait para ulama. Apa yang membuat diri orang yang awam merasa berhak mengomentari mereka? 


Kawan. Ada adab adab tertentu yang mengatur seseorang dalam berkelakuan pantas kepada orang lain. Karna, tak semua orang punya citarasa dalam bersikap. Dan tak semua orang memakai akalnya dalam berucap.


Saya teringat perkataan Imam As-Syafi'i mengomentari semacam para perivew ulama ini. 

Beliau berkata. 


أَرى الغِرَّ في الدُنيا إِذا كانَ فاضِلاً

تَرَقّى عَلى روسِ الرِجالِ وَيخطُبُ

وَإِن كانَ مِثلي لا فَضيلَةَ عِندَهُ

يُقاسُ بِطِفلٍ في الشَوارِعِ يَلعَبُ


Aku melihat beberapa orang yang terlena karna disanjung


Karna merasa pantas, mereka mulai menginjak kepala orang orang mulia dan mulai ber sesumbar


Adapun yang orang seperti saya, hanya akan dipandang remeh.


Mereka samakan saya dengan  anak kecil yang bermain di jalan. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Take & Give

  TAKE AND GIVE SI BAJINGAN TENGIK Muhammad Diya Shahab, Lc Kawan... ‎Dunia berjalan dengan hukum dasar "memberi dan menerima" ‎Orang memberi sebuah kebaikan padamu maka dia harus menerima hal baik juga darimu ‎ ‎Bukankah pererbuatan baik orang itu menuntut disyukuri dan di terimakasih ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu membalas dengan kebaikan = kamu bijak ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu berterimakasih = kamu manusia normal ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu tidak berterimakasih = kamu bajingan ‎Orang berkorban untukmu 👉 kamu mengeluhkan pengorbanannya = kamu bajingan tengik yang tak tau bersyukur

Pilihan Kedewasaan

  PILIHAN KEDEWASAAN (Sayyid Diya Shahab, Lc)  ‎Kawan. . .  ‎Dalam hidup kau akan sering kali dihadapkan pada dua pilihan. Setiap pilihan pilihan kecil dalam keseharian hidupmu akan membentuk dirimu dimasa depan. ‎ ‎Dimulai dari pilihan-pilihan kecil seperti: ‎ ‎Jujur / bohong ‎Taat / maksiat ‎Belajar / bermain ‎ ‎Sampai pilihan-pilihan besar seperti: ‎ ‎Bekerja / bermalas-malasan ‎Berteman dengan yang baik / yang buruk ‎Membangun keluarga / pesta pora ‎ ‎Kawan... ‎Pada akhirnya engkau akan menjadi semakin "dewasa" saat memilih pilihan yang tepat

Lahir Tanpa Privilege

 Lahir Tanpa Privilege   (Muhammad Diya Shahab,Lc) Kawan, memang betul bahwa manusia lahir dengan status sosial dan privilege yang berbeda. Ada yang lahir di keluarga konglomerat dan ada yang terlahir di keluarga rakyat jelata.  Namun, diantara keadilan Allah, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk beruntung di akhirat nanti.  Bahkan, Allah memberikan sebuah contoh ekstrim 15 abad lalu dengan lahirnya seorang anak yatim, yang dari saat dalam kandungan telah ditinggal wafat ayahnya dan menjadi piatu di usia 5 tahunya. Nyaris tanpa hak istimewa. Namun, anak ini akan bergelar Al-Amin (si jujur terpercaya) pada masanya. Dan menjadi orang paling berpengaruh di dunia. Bahkan makhluk paling mulia disisi Tuhannya.  Kawan… Jadikan dirimu beruntung di dunia dan akhirat. Kalaupun ternyata duniamu kurang beruntung, jadikanlah akhiratmu bahagia. Sialnya, ada orang yang tak beruntung dunianya juga ia biarkan luput  akhiratnya.