(Muhhammad Diya Shahab,Lc)
Aku melihat seorang bapak yang turun dari kendaraan roda dua dengan tangan penuh barang bawaan. Bapak yang baru menerima gaji ini membeli beberapa barang untuk keluarganya. Familyman pikirku.
Disiku kanannya ada dua kantong besar, satu berisi tas jinjing wanita, mungkin itu adalah keinginan istrinya. Satu lagi berisi kotak brownies coklat. Telapak tangan kanannya memegang sekotak besar ayam goreng. mengingat hari yang sudah sore, ayam itulah makan malam mereka. Disiku kiri ada sebuah bungkus Pampers besar ukuran XXL. Ia punya bayi yang gemuk. Masih disiku kiri ada bungus susu bayi. Ditangan kiri ia menggengam tas kerjanya.
Si bapak membawa beberapa mainan plastik dalam pelukannya, masak-masakan berwarna pink dan boneka. Jelas ia punya anak perempuan yang tidak bayi lagi. Dalam keadaannya yang super repot, ia masih bisa membawa setengah kilo telur dengan gigitan.
Lalu ia berusaha meraih sekarung beras ukuran 5KG dengan ujung ujung jari kanannya. Hampir ia terjatuh dan menghambur semua barang bawaannya. Hampir... Namun tak terjadi.
Ia letakkan beras dan beberapa mainan di tanah, lalu dengan nyaman ia bawa sebagian barang kedalam rumah kontrakannya. Tak lama ia kembali untuk mengambil beras dan mainan anaknya.
Kejadian umum, lumrah dan mungkin sering kita alami. Itulah akibat pengurangan kantong plastik.
Kawan. Ada satu hal yang terlintas dihatiku. Bahwa Ketika barang bawaanmu terlalu banyak, letakkanlah sebagian yang tak terlalu mendesak. Lalu kembali lagi nanti untuk mengambilnya nanti.
Dalam hidup seringkali kita mengambil terlalu banyak tanggungjawab yang saat kita sadari ternyata kita tak mampu menanggung seluruhnya dalam satu waktu. Dalam keadaan itu letakkanlah beberapa hal yang tidak prioritas. Saat senggang ambillah kembali.
Seorang ayah, merangkap pegawai, merangkap ketua rt, merangkap sekertaris komunitas motor, merangkap muadzin di masjid dan menjalankan jual beli online. Saat ia sadar ternyata ia tak punya cukup waktu menangani semuanya, celakanya karna berusaha memenuhi semua ia mengabaikan beberapa kewajiban dan prioritasnya sebagai seorang ayah dan pegawai.
Dalam kondisi ini ia harus mengorbankan beberapa hal yang tidak mendesak, komunitas motor dan ketua rt misalnya.
Begitulah kehidupan berjalan, seorang bijak adalah yang dapat memilih hal terpenting diantara yang penting.
Mari fahami. Mari upgrade diri dan hati
foto: Tahun 2013, saat berkuliah di Yaman. Saat hanya memikul 2 beban, Melanjutkan Hidup dan Melanjutkan Kuliah

Komentar
Posting Komentar